Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Rangkaian Kata

Catatan Hari ini, ber Rompi- ber Hak Tinggi- kejar tayang bak Matahari.

Sahabat, Ingin ku ceritakan padamu, bahwa semua hari - hariku adalah hari yang Hebat. 24 Jam di bilang taka da istirahat. Siapa Bilang? Ketika menulis ini, bukankah sudah waktuku istirahat. Asal bisa menciptakan berbagai langkah yang bermanfaat, ku rasa itu membuatku cukup tak rugi, telah mengatur waktu tanpa jeda yang begitu ketat. Setiap hari terlalui dengan hebat, dari 05:00 – 24 (JAM DUA EMPAT), tetap on fire, penuh semangat. Segala sesuatu telah terencana dengan cepat, dan terlampaui dengan ketepat-an yang akurat. Dan terimakasih kepada orang orang terdekat, yang selalu mendukung tanpa syarat. Kepada orang yang seharusnya selalu jadi nomor satu, tetapi rela diduakan dengan waktu, ku sampaikan pula dengan tunduk malu “ah,maafkan aku, selalu begitu!”. Lets join me!, maka kamu akan mengerti, begitu hidup ini begitu berarti. Hari ini, dan besok aku yakini Kabar – kabar baik, setiap waktunya datang dari berbagai penjuru arah. Target ibadah- kerja-silaturahmi-kesehatan-keu...

Bagiku, Cinta itu....

CINTA itu bukan "kadang-kadang" Kadang Cinta kadang engga! Bukan... yg seperti itu bukan cinta! Mungkin itu hanya kagum belaka. Jika sudah habis kekaguman, maka habislah pula perasaan itu. CINTA itu "selalu" Selalu merasakan meski dikejauhan,   selalu mempengaruhi meski belum memiliki, selalu melindungi, meski sedang tak di sisi selalu datang meski melalui sebuah pesan,   selalu ada meski hanya melalui doa,   selalu memberi meski hanya sekedar memotivasi, selalu memperjuangkan meski tak tau kapan akan menang, Selalu setia meski tak terawasi, Selalu memahami meski hanya mendengarkan Selalu merindu meski tak tau kapan akan bertemu,   Selalu mempertahankan meski habis masa kekaguman, Selalu disirami, agar selalu bersemi dan tak pernah mati" Pun meski ditanggalkan... Cinta itu akan selalu di ingat, meski entah kapan disuatu saat akan bisa terikat ;) "Hai hatiq, apakabar kamu?"

Tak Tahu

Bagi orang sepertiku, yang tak begitu pandai ilmu penjumlahan, jangankan untuk bisa menyelesaikan soal-soal limit fungsi aljabar, dapat menemukan banyaknya himpunan bagian dari segitiga pascal saja, aku sudah sangat lega, Lalu mengapa kau tega, memintaku untuk menghitung peluruhan dari cintamu, yang mana bunga rindu majemuk, yang mana bunga kasih tunggal? Bilakah ada logika dalam kisah ini, maukah kau memberitahuku, yang mana negasi, yang mana ingkaran? Cepu,2015 Semalam,sebelum Sumpah Pemuda di kumandangka n

Terpaksa Merindukanmu

Celakanya, Kau pandai membuat hatiku terpaksa merindukanmu Jika seharusnya kau datang memberi kekuasaan, Tentunya dengan cepat kan kupilih untuk berpandai menikmati dan menyimpan rindu ini Dan sayangnya, Lagi-lagi tak ada toleransi! Kau hilang, aku tercengang-Cengeng! Seolah tersenyum bersemangat menggoda hari-hari yang terlewati sepi Dan sayangnya, Lagi-lagi tak ada toleransi, Kau pendai membuat hatiku Terpaksa merindukanmu Dian,diam menunggu!

Sang Maha Tahu

Bagai Kemarau di tengah-tengah musim Penghujan Panasnya mendidih, mengguyur. Kami hanya bisa tertawa beku, menahan sakit yang luar biasa dan akhirnya menjadi terbiasa Kami hanya mencoba menangis dengan air mata yang ikut mengering bersama iring-iringan doa-doa Dan Engkaupun pasti tahu, Apa yang sebenarnya kami mau! Dan Engkaupun pasti mengerti, Apa yang terbaik untuk kami! Kami hanya bisa tertawa beku, menahan sakit yang luar biasa dan akhirnya menjadi terbiasa, Kami hanya mencoba menagis dengan air mata yang ikut mengering bersama iring-iringan sang waktu Dan Engkaupun pasti tahu, Hati kami masih hidup di temani sebuah harapan yang menderu Jiwa kami masih berlomba-lomba melantunkan doa-doa dengan beribu makna, Tuanku,Sang Maha Tahu Akankah musim yang tak menentu ini cepat berlalu Secepat detakan jantung kami yang sudah berkarat? Bagikanlah cuaca yang bahagia, sebagai pengobat musim yang melukai kami ini, Atau tetapsajalah begini.. Sampai Engkau memvoni...

RENGEKAN KAMI YANG KECIL

Pak Pemimpin... Jalan Raya Randublatung yang sempat teranggarkan itu, apakahsengaja kau hadiahkan pada rakyatmu yang disana? Agar mereka tau bagaimana penderitaan kami yang dipelosokBlora ini, memakan manisnya kerikil jalan yang berdebu di setiap waktu,Menikmati beceknya comberan memanjang di kala musim hujan datang, Kau memang adil... Mengapa tak sekalian kau purbakan lagi jalan itu sepertimilik kami yang tak tersentuh semen dan aspal...? Lihat ini pak Pemimpin, Kemarilah...? Lihatlah kami yang renta berdebu ini... Telah rapuh,  menunggu janji yangpernah membuat kami luluh.. Pak Pemimpin Yang kami sayangi, Maafkan kami yang terlalu manja, beriri hati pada kawasan tetangga Lihat itu pak pemimpin! kemarilah..! Lihat milik mereka? Di seberang sungai itu terhampar jalanan indah yang kamirindukan TAK INGINKAH engkau Membuatkan kami seperti milik mereka...? Tak berdayakah engkau? Bukankah engkau juga SEPANDA I pemimpin mereka?     ...

Sajak sajikan kesejukan

Aku menulisnya dengan hati,tanpa kau pinta... Mengejakannya baik-baik dengan penuh semangat yang ku sengaja, Bukan maksud menyanjungmu ataupun menyuntikan perasaanku pada alam bawah sadarmu Sayang, Aku hanya ingin kau tau, Aku bahagia memilikimu, Merasa beruntung bisa bersamamu. Sayang, Waktu tak bisa mengobati perasaan rindu kita Waktu tak bisa menjawab hal-hal yang tak kan bisa menantang takdir kita, Kita, engkau dan aku Tak tau akan keujung dunia mana bisa bersua dengan penuh suka cita Aku menulisnya dengan hati,tanpa kau pinta... Mengejakannya baik-baik dengan penuh semangat yang ku sengaja, Bukan maksud menyanjungmu ataupun menyuntikan perasaanku pada alam bawah sadarmu Aku mencintaimu!